Pengembangan itik alabio cukup prospektif
karena ditunjang oleh ketersediaan bibit dan pasar,keterampilan
peternak yang memadai, sosial budaya dan dukungan pemerintah daerah.
Permasalahan dalam beternak itik alabio
adalah belum adanya standarisasi bibit, kualitas pejantan menurun,
pencatatan produksi belum optimal, mahalnya harga pakan, ketersediaan
bahan pakan lokal bergantung pada musim serta penanganan pasca panen dan
penyakit yang belum memadai.
Untuk mengatasi permasalah di atas
tersebut, dapat dilakukan pemetaaan wilayah untuk pemurnian itik alabio
atau pembangunan village bredding center, penyuluhan tentang pencatatan
produksi yang baik, seleksi pejantan unggul, pembuatan formula pakan
yang berkualitas dan harga murah dengan memberdayakan sumber-sumber
bahan pakan lokal, perbaikan penanganan pascapanen serta pencegahan dan
pengendalian penyakit secara intensif terutama diruang penetasan dan
lingkungannya.
Keunggulan itik alabioKeragaan itik alabio meliputi hal-hal seperti berikut :
- Produksi telur, 220 – 250 butir/ekor/tahun
- Puncak Produksi 92,70%
- Bobot Telur, 59 – 65 gram/butir
- Konsumsi Pakan, 155 – 190 gram/ekor/hari
- Dewasa Kelamin, 179 hari
- Daya Tunas, 90,38%
- Daya Tetas, 79,49 – 80 %
- Mortalitas setelah menetas, 0.75 – 1%
- Bobot Badan Betina umur 6 bulan, 1.60kg
- Bobot Jantan umur 6 bulan, 1.75 kg
Standar SNI Itik Alabio Jantan
itik duo,bisa pedaging bisa petelur,trubus exo
Standar SNI Itik Alabio Betina
itik duo,bisa pedaging bisa petelur,trubus exo
Di samping itu, menurut Biyatmoko
(2005a), itik alabio ini termasuk itik lokal unggul yang memiliki dwi
fungsi karena selain mampu memproduksi telur yang tinggi, rata-rata
214,72 butir/tahun juga potensial sebagai penghasil daging di bandingkan
dengan itik lokal lainnya. Dengan berbagai keunggulan yang dimiliki
itik alabio, maka pada tahun 1996, Balai Penelitian Ternak Ciawi,
Balitnak Bogor melakukan persilangan antara itik mojosari dan alabio
yang menghasilkan bibit itik (final stock) yang unggul dibandingkan
tetuanya.
Dan pada tahun 2002 diadakan kerjasama
antara Balitnak Ciawi Bogor dengan Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU)
kambing domba dan itik Pelaihari, Kalimantan Selatan untuk
mengembangkan hasil persilangan tersebut dan menghasilkan itik hibrida
petelur dan pedading unggul yang disebut sebagai itik MA-2000 atau yang
lebih populer di kalangan peternak itik dengan sebutan itik raja
(jantan) dan itik ratu (betina) .
Oleh : SuryanaBalai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Selatan